.
Lurah bersama Pamong kalurahan Condongcatur bersiap mengikuti kirab Mangayubagyo 80 tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) — Pemerintah Kalurahan Condongcatur mengirimkan 23 personel untuk mengikuti Kirab Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan HB X yang digelar di kawasan pusat Kota Yogyakarta, Kamis (2/4/2026).
Rombongan dari Condongcatur bergabung dengan barisan Kapanewon Depok, kontingen Kabupaten Sleman, dengan titik kumpul di kawasan depan Gedung Agung atau Titik Nol Kilometer Yogyakarta sebelum bergerak menuju Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Sekitar 12.000 pamong kalurahan dan unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-DIY memadati kawasan sumbu imajiner Yogyakarta dalam kirab bertajuk Mangayubagya 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, bersama 22 pamong turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Reno menegaskan, keikutsertaan Pemerintah Kalurahan Condongcatur bukan sekadar seremonial, tetapi bentuk komitmen nyata dalam menjaga budaya dan pengabdian kepada masyarakat.
"Kami hadir bukan sekadar mengikuti kegiatan, tetapi sebagai wujud tanggung jawab dan pengabdian. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus nguri-uri budaya, memperkuat kebersamaan, dan mendukung kepemimpinan Ngarso Dalem," tegasnya.
Selain mengikuti kirab, rombongan Condongcatur juga membawa pisungsung berupa produk UMKM sebagai simbol kekuatan masyarakat.
"UMKM adalah kekuatan kami. Apa yang kami persembahkan hari ini adalah bukti bahwa masyarakat mampu bergerak, mandiri, dan memberikan kontribusi nyata bagi Yogyakarta," lanjut Reno.
Ia menambahkan, semangat kegiatan tersebut akan ditindaklanjuti secara konkret melalui penguatan pemberdayaan masyarakat, khususnya sektor UMKM, serta pembangunan yang selaras dengan nilai budaya.
"Mugi Ngarso Dalem tansah pinaringan sehat, panjang umur, lan kawilujengan, serta terus membimbing Yogyakarta dengan kebijaksanaan," pungkasnya.
12 Ribu Pamong Ikuti Kirab
Kirab budaya ini diikuti pamong kalurahan/kelurahan se-DIY, perwakilan kapanewon/kemantren, abdi dalem Keraton Yogyakarta, serta paguyuban seperti Nayantaka dan Sekartejo yang membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur kepada Ngarso Dalem.
Di DIY terdapat 438 kalurahan/kelurahan, masing-masing mengirimkan 20–30 pamong mengenakan busana tradisional sesuai ketentuan. Urutan kirab dimulai dari:
Kota Yogyakarta: 1.364 peserta (273 baris) mulai pukul 07.00 WIB
Kabupaten Sleman: 2.597 peserta (520 baris) pukul 07.15 WIB
Kabupaten Bantul: 2.267 peserta (454 baris) pukul 07.45 WIB
Kabupaten Gunungkidul: 4.338 peserta (868 baris) pukul 08.15 WIB
Kabupaten Kulon Progo: 2.652 peserta (531 baris) pukul 09.00 WIB
Peserta berjalan dari Monumen Serangan Oemoem 1 Maret menuju Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta.
Sri Sultan HB X lahir di Yogyakarta pada 2 April 1946 dengan nama kecil Bendara Raden Mas Herjuno Darpito.
Pesta Rakyat dan 80 Angkringan
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menjelaskan rangkaian kegiatan Mangayubagya dibagi dalam dua bagian utama.
Pada pagi hingga siang hari, disiapkan sekitar 80 angkringan di kawasan Alun-Alun Utara Yogyakarta untuk mendukung kegiatan Mangayubagya yang diikuti pamong kalurahan dan unsur LKK se-DIY.
Selanjutnya, pada sore hari perayaan dilanjutkan dengan pesta rakyat terbuka untuk umum di kawasan Malioboro, di mana masyarakat dapat menikmati angkringan sambil menyaksikan berbagai pertunjukan seni di ruang terbuka. (atm)