.
Plt. Kadis Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Rofiq Andriyanto bersama Kadisbud Ahmad Zayid. (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Kabupaten Sleman lagi-lagi bikin heboh. Dua agenda akbar siap digelar dalam pekan yang sama, Apel Akbar Pertanian Sleman 2025 dan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) Sleman 2025.
Dalam dua hari berturut-turut, Sleman akan menjadi panggung besar bagi petani dan seniman, menegaskan perannya sebagai daerah pangan sekaligus kota budaya. Hal tersebut diungkapkan Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman Rofiq Andriyanto, bersama Kadis Kebudayaan Sleman Ahmad Zayid, Selasa (14/10) di Pendapa Paku Jati.
Ribuan petani, pelaku usaha tani, dan masyarakat akan memadati Lapangan Pemda Sleman untuk mengikuti Apel Akbar Pertanian Sleman 2025, Rabu (15/10). Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, mengusung tema “Bergandengan Tangan untuk Pangan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik.”
Rofiq menyebut kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara pemerintah, petani, dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan global.
“Kita ingin membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan bukan hanya tugas petani, tapi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Tak cuma apel, acara ini juga diramaikan pameran pertanian besar-besaran. Ada 20 stan yang menampilkan inovasi dan produk unggulan, mulai dari bibit tanaman, alat mesin pertanian, hingga 1.000 cup kopi gratis untuk pengunjung.
Bupati Sleman Harda Kiswaya direncanakan juga dijadwalkan menyerahkan berbagai bantuan alat pertanian, dari traktor hingga pupuk organik, serta sertifikat Indikasi Geografis Jambu Air Dalhari Berbah.
Dua hari kemudian, giliran seniman dan budayawan yang mengambil alih panggung. Melalui Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) Sleman 2025, Sleman akan dipenuhi warna-warni tradisi lewat Pawai Seni Rajakaya bertema “Adoh Ratu, Cedhak Watu.”
Pawai akan dimulai dari Halaman Parkir Sendang Bagusan Senuko, Sidoagung, Godean, dan berakhir di Bulak Balong, Bendungan, Sidoagung. Malam harinya, berbagai sanggar lokal seperti Puspa Budaya, Sembada Budaya, dan Jathilan Turonggo Panca Wisesa bakal tampil di panggung utama.
“FKY bukan sekadar tontonan, tapi juga ruang ekspresi bagi generasi muda untuk kembali mencintai tradisi,” ungkap Zayid.
Kedua acara besar ini menunjukkan semangat Sleman menjaga pangan dan budaya secara seimbang dua kekuatan yang menjadi jati diri kabupaten ini. Dari sawah hingga panggung seni, Sleman kembali membuktikan: “pangan lestari, budaya tak pernah mati.” (atm)*