.
Dr. Sumbo Tinarbuko.
Oleh Dr. Sumbo Tinarbuko
DARI layar telepon pintar dapat dimonitor secara langsung terjadinya palagan tanda visual. Lewat gawai canggih bisa pula disaksikan berlangsungnya perang fisik yang melibatkan bala tentara antar negara yang sedang bertikai.
Jejak digital peperangan itu, secara visual tidak lagi muncul dalam wujud deretan angka statistik atau laporan teks yang kering. Realitas media justru merekam kehadirannya dalam sebuah taferil raksasa. Di dalamnya terpampang gambaran besar. Disusun dari jutaan piksel yang menawan indera mata.
Di antaranya hadir dalam bentuk infografis memihak pada eksistensi simbol heroik yang provokatif. Hingga tayangan video berdurasi pendek yang mengaduk-aduk emosi warganet.
Peristiwa hiruk-pikuk di balik perang fisik dapat dibaca sebagai palagan tanda visual. Keberadaannya sangat deterministik bagi masa depan geopolitik global.
Artinya, secara teoritis, palagan tanda visual mengacu pada perspektif tanda dan simbol visual yang muncul di ruang publik digital.
Kemunculannya secara konotatif terasa kaku dan terstruktur. Sangat matematis dalam hitungan bilangan angka yang bergerak serba cepat dan pasti. Bahkan sebelumnya sudah ditentukan sistem relasi kuasa oleh rezim penguasa.
Perspektif Komunikasi Visual
Dalam konteks palagan tanda visual dapat direkatkan makna konotasi sebagai arena peperangan atau medan pertarungan. Pemahaman ini berangkat dari asumsi yang menggariskan warga masyarakat tidak mempunyai kendali atas sebuah kekuatan guna menafsirkan serta menginterpretasikan makna lain. Selain tafsir tunggal yang harus diterima dengan sukarela dari pemberian sang pencipta tanda.
Di sisi lain, dalam perspektif komunikasi visual, geopolitik tidak lagi sekadar urusan perebutan wilayah fisik. Baik meliputi wilayah daratan, udara maupun samudera lautan. Geopolitik dapat ditafsirkan sebagai ikhtiar sistematis untuk menguasai ruang kognitif publik di jagat raya. Ruang kognitif di sini meliputi wilayah mental manusia tempat berterbangannya awan persepsi, jalinan keberpihakan, dan patok legitimasi moral.
Semuanya diputuskan sepihak dari ekosistem verbal yang memayunginya. Di taferil itu berlangsung interpretasi geopolitik visual. Ia bekerja sebagai instrumen pendudukan dan penguasaan suatu wilayah. Dilakukan lewat operasi senyap yang sangat efektif. Dikendalikan oleh angkatan bersenjata asing tanpa adanya peralihan kedaulatan yang sah secara hukum internasional.
Palagan tanda visual ini bekerja melalui mekanisme semiotis yang rumit. Tanda visual dalam bungkus kemasan komunikasi visual, berkelindan di ruang virtual.
Secara digital hadir dalam wujud palet warna biru dan kuning. Hal itu terlihat pada palagan tanda visual dalam konflik Ukraina dengan Rusia. Dapat pula disaksikan jejak digital komunikasi visual palagan tanda visual berupa simbol perjuangan di Gaza.
Semua paparan, amsal dan contoh di atas bukan sekadar identitas rupa. Sesungguhnya keberadaannya merupakan representasi palagan tanda visual. Berupa amunisi konotatif yang dikirim untuk menduduki pikiran masyarakat internasional. Ketika publik dunia mulai mengadopsi dan bersimpati pada simbol tersebut, pada titik itulah pendudukan kognitif terjadi.
Pemenang dalam palagan tanda visual bukanlah kelompok entitas yang memiliki peluru terbanyak. Melainkan sekelompok kekuatan simbolik yang tanda visualnya paling mampu menguasai kognisi dunia melampaui hambatan maupun batasan bahasa verbal visual.
Urgensi geopolitik visual dalam perspektif palagan tanda visual hari ini terletak pada kemampuan sebuah bangsa dalam melakukan sinkronisasi pesan verbal dan pesan visualnya. Dampak sosialnya dalam jagat diplomasi, sering kali terjadi diskoneksi yang fatal.
Hal itu terlihat ketika seorang diplomat berbicara tentang perdamaian yang bersifat verbal. Sebaliknya, kedigdayaan visual yang beredar di lapangan menunjukkan arogansi kekuasaan absolut.
Celah asimetri informasi ini merupakan titik lemah. Kecacatan komunikasi visual ini dapat menghancurkan kredibilitas diplomasi sebuah negara. Hal itu terjadi dalam sekejap kedipan mata.
Diplomat Visual
Di sinilah peran penting diplomat visual. Mereka bukan sekadar desainer grafis dan desainer komunikasi visual atau komunikator visual yang bekerja di belakang meja. Mereka sejatinya insinyur makna yang bertugas menyelaraskan seluruh tanda visual negara agar sejalan dengan narasi diplomasi besarnya.
Diplomat visual wajib memahami setiap piksel yang hadir di ruang publik virtual merupakan pilihan produk digital politik. Setiap garis, bentuk, warna, tanda, dan simbol memiliki konsekuensi geopolitik yang nyata di panggung antarbangsa.
Tantangan palagan tanda visual saat ini kian pelik dengan hadirnya akal imitasi. AI mampu memproduksi sampah visual digital dan menghasilkan disinformasi virtual. Hasilnya berupa citra manipulatif yang tampak nyata dalam hitungan detik.
Untuk itu, di tengah banjir rekayasa visual produksi akal imitasi. Saatnya akal budi manusia menjadi benteng terakhir guna menjaga integritas kebenaran visual yang hakiki.
Dengan demikian, siapapun yang hidup dan hadir dalam ekosistem komunikasi visual wajib menjadi kurator makna. Tafsirnya, mereka harus dapat memverifikasi dan membongkar upaya manipulasi persepsi yang senantiasa mendehumanisasi manusia.
Karena itulah, pendidikan tinggi desain komunikasi harus berani melompat jauh melampaui urusan estetika dan produksi desain visual. Desain komunikasi visual wajib menjadi ilmu yang pertahanan narasi verbal dan visual. Pengetahuan ilmiah yang membekali desainer dengan pemahaman sejarah, semiotika, sosiologi desain, akal imitasi, dan strategi geopolitik.
Jujur harus diakui bersama, sejatinya sebuah perdamaian acap kali dimulai dari sini. Dari sejauh mana visi perihal perdamaian itu diproyeksikan secara visual kepada dunia.
Taferil geopolitik masa depan akan ditentukan oleh seberapa jujur para komunikator visual mampu mengelola tanda, simbol, dan makna yang diciptakan setiap hari.
Apalagi di tengah palagan tanda visual yang kian riuh. Peran ilmu desain komunikasi visual bersama sang komunikator visual menjadi nahkoda visual yang dapat diandalkan.
Mereka wajib memastikan di balik setiap karya desain komunikasi visual yang dirancang, terdapat kompas moral. Diarahkan pada kiblat tujuan guna memuliakan nilai kemanusiaan yang universal. Jangan sampai desain hanya menjadi bagian estetikanisasi dekorasi yang berhiasan indah di atas reruntuhan kebudayaan serta peradaban manusia.
*) Dr. Sumbo Tinarbuko. Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta.