Platinum

Sugeng Tindak Mas Tjahjo

05 July 2022
.
Sugeng Tindak Mas Tjahjo

Selamat jalan Mas Tjahjo Kumolo. (PM-Dok Pribadi)

Oleh : Yo Sugianto

Tengah malam itu usai peluncuran buku puisi saya “Di Lengkung Alis Matamu,” kami bersiap pulang setelah acara berjalan lancar. Teman-teman dan pengunjung lainnya sudah lelah bercakap saat secara tidak sengaja membentuk kelompok kecil sendiri.    

‘Aku sudah puluhan kali hadir di peluncuran buku. Baru sekali ini ada karangan bunga dari politisi untuk penyair,”kata penyair kondang, Joko Pinurbo yang  menulis kata pengantar untuk buku saya.

Jokpin berkomentar soal itu ketika melihat ucapan selamat kepada saya dari Tjahjo Kumolo yang saat itu menjadi Ketua Fraksi PDIP DPR. Karangan bunga itu berdiri kokoh, satu-satunya ucapan selamat selain spanduk di seberangnya.

Itu sebagian bentuk riil dari perhatian seorang Tjahjo Kumolo kepada temannya. Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR, petinggi PDIP hingga menjadi Menteri Dalam Negeri (27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019) dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Indonesia.

Menteri yang sederhana, rendah hati dan dikenal sering menolong itu telah pergi 1 Juli 2022 jam 11.10 lalu di RS Abdi Waluyo, Jakarta. Lelaki berkacamata kelahiran Solo 1 Desember 1957 itu meninggalkan banyak kenangan dan kesan baik. Ia orang baik.

Saya mulai berteman dengan mas Tjahjo, begitu memanggilnya, sejak ia menjadi anggota DPR dari Golongan Karya, setelah sebelumnya menjadi Ketua Umum KNPI. Di era Orde Baru, KNPI menjadi salah satu tangga bagi politisi muda untuk bisa meluncur ke DPR

Setelah jarang bertemu karena saya bekerja di perusahaan swasta, dan kantor pindah ke Jakarta Utara, komunikasi tetap berjalan. Karier mas Tjahjo main moncer. Dia pernah menjadi  Ketua DPP Bidang Politik PDIP dan Sekjen PDIP periode 2010-.

Tak sampai sebulan setelah dilantik sebagai Mendagri, saya bertemu dengan mas Tjahjo di rumah dinasnya. Malam itu saya datang lebih awal, karena pertemuan ini bukan dengan teman biasa tapi seorang Menteri.

Baru mau melangkahkan kaki ke rumah dinas di Widya Chandra, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, mas Tjahjo menelepon. “Sido ketemu kan? Oh wis teko, mlebu ae, dilut maneh aku teko, sik nang dalan baru rapat” (Jadi ketemu kan? Oh sudah datang, masuk saja, sebentar lagi aku sampai, masih di jalan baru selesai rapat),”katanya.

Saya masuk, melapor dan langsung duduk di deretan kursi. Maksud hati menunggu teman Menteri itu sambil merokok. Tapi baru mengambil rokok sudah dipersilahkan masuk ke ruang tamu, dan ada dua asbak di meja.

Saat itu saya berpikir mas Tjahjo tetap teman yang saya kenal saat bertugas di DPR. Betapa banyak orang ingin bertemu Menteri, tapi dia malah bertanya apakah jadi bertemu. Pertanyaan yang belum terjawab ketika dia datang dengan sapa yang tak berubah, akrab seperti dulu.

Hampir dua jam kami berbincang. Mulai dari soal politik, hobi sampai keluarga. Berbatang rokok sudah ludes di asbak, dan mas Tjahjo habis dua cerutu.

Ketika hendak pindah ke Jogja, saya mengabarinya. Berharap saat ada acara di kota gudeg ini ada waktunya untuk bertemu. Dan ia menepati janjinya pada 1 Desember 2018 siang lewat telepon untuk bertemu di Ndalem Notoprajan, Ngampilan, Jogja, Sabtu (1/12/2018) malam.

“Ayo nonton wayang kulit, ojo lali ya,” katanya.

Saat sampai di Ndalem Notoprajan, saya segera menuju deretan kursi di depan. Tak ada petugas yang menghambat, dan langsung diminta duduk di sebelahnya.

Pagelaran saat itu mengambil lakon “Sengkuni Gugur” yang dibawakan oleh dalang Ki Catur Benyek

Lakon yang terbilang unik untuk peringatan ulangtahunnya. Ya, saat itu ulangtahun mas Tjahjo saat ia berkunjung ke Yogyakarta, dan ia merayakannya dengan menyaksikan pagelaran wayang kulit.

Sambil menikmati rokok di sebelahnya ia bercerita tentang wayang yang sudah lama disukainya sejak kecil.

“Di wayang selalu identik dengan Pandawa dan Kurawa. Perseteruan yang terjadi karena adanya Sengkuni yang suka mengumbar kebencian dan fitnah. Di perpolitikan juga ada Sengkuninya, di pemerintahan juga dan di ormas ada juga. Kalau dulu mungkin dengan omongan, sekarang Sengkuni menyebarkan fitnah dan mengumbar kebencian] dengan bermain di media sosial ,”ujarnya.

Mas Tjahjo telah mengakhiri sakitnya. Sakit yang membuatnya tak sempat membalas pesan yang saya kirim sehari sebelumnya, mendoakan dia segera sembuh.

Satu orang baik telah pergi. Kebaikan dan kerendahan hati yang tak bisa dilupakan dari seorang Tjahjo Kumolo.

Sugeng tindak, mas Tjahjo. ***g

 

*Suka menulis artikel dan puisi

Dilarang

Baca Juga