.
Wabup Danang Maharsa (dua dari kiri) mengikuti prosesi ritual doa pada upacara Labuhan Merapi di Sri Manganti Hargo Merapi. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengikuti Upacara Adat Labuhan Merapi bersama Paring Dalem Surakso Hargo atau Mbah Asih dan abdi dalem Keraton Yogyakarta, Selasa (20/1).
Prosesi diawali dengan membawa ubarampe dari Pendopo Museum Petilasan Mbah Maridjan menuju Sri Manganti Hargo Merapi.
Upacara Labuhan Merapi merupakan rangkaian peringatan Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-38.
Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus doa keselamatan bagi Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta masyarakat.
Setibanya di Sri Manganti Hargo Merapi, upacara dilanjutkan dengan prosesi ritual, doa bersama, serta pembagian nasi dan lauk pauk kepada masyarakat.
Berkat labuhan tersebut tak hanya dinikmati warga lereng Merapi, tetapi juga wisatawan yang turut menyaksikan jalannya upacara.
Wabup Danang mengaku bersyukur atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap salah satu upacara adat rutin di Kabupaten Sleman tersebut.
Ia menilai Labuhan Merapi kini tak hanya dimaknai sebagai ritual budaya, tetapi juga memiliki nilai lebih sebagai daya tarik wisata.
“Artinya labuhan ini selain sebagai ritual budaya, juga menarik perhatian menjadi obyek wisata. Tentu ini sangat istimewa bagi kami,” jelasnya.
Menurut Danang, pelaksanaan Labuhan Merapi juga sarat dengan nilai spiritual dan pelestarian budaya Jawa. Tradisi ini menjadi sarana memohon keberkahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus upaya menjaga harmoni antara manusia dan alam.
“Ini bagi orang Jawa menjadi suatu keyakinan untuk mendekatkan kita kepada alam, kepada yang Maha Kuasa. Kita sebagai makhluk ciptaanNya ini bisa saling bersatu, saling menjaga alam,” lanjut Danang.
Lebih lanjut Danang menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata terus melakukan monitoring dan evaluasi agar prosesi adat dapat berjalan sesuai pakem.
“Harapan kami tentunya Labuhan ini selain menjadi ritual khusus, juga kedepannya dapat terus menjadi daya tarik bagi wisatawan, khususnya bagi yang ingin melihat secara langsung kegiatan budaya ini sebagai bagian dari nguri-uri budaya di Kabupaten Sleman,” kata Danang. (atm)